Selasa, 24 Februari 2015

Tahu Diri



                          TAHU DIRI
 

Hai, kau yang disana..
Kita  bertemu lagi, mungkin ini hanya sebuah kebetulan atau memang takdirlah  yang mempertemukan kita. Tapi apakah kau masih mengingatku?
Sejak saat itu ku berusaha menjauh bahkan menghilang darimu, tapi hari ini tuhan berkata lain. Mungkin kita memang sudah ditakdirkan tuk bersama..
Sepertinya tidak banyak yang berubah dalam dirimu, binar mata dan senyuman itu masih tetap ada. Pertemuan ini membuat perasaan itu muncul kembali walau hanya sekejap, aku tak bisa melupakan pertemuan pertama kita. Pertemuan yang biasa pada awalnya dan berakhir dengan air mata penyesalan..
aku mengenalmu pada saat acara sekolah, pada siang hari itu kau terlihat tampan dengan kemeja biru, celana jeans coklat dan sepatu nike merah itu. Aku takkan pernah lupa pertemuan pertama kita, hari itu rasanya aku ingin terus bersamamu. Tak pernah aku merasa senyaman ini saat bersama seorang pria, tutur katamu dan cerita-cerita hangat yang kau sampaikan begitu membuatku ingin terus bersamamu.
Kita lewati hari itu dengan canda tawa, tak terasa tanganmu sudah lama menggenggam tanganku, sampai akhirnya ada seorang wanita yang mengirimkanmu kabar bahwa ada seseorang yang sedang menunggunya dengan keadaan kurang sehat. Raut wajah itu berubah seketika, seperti ada belati yang sedang menikam jantungmu. Tampa memperdulikanku kau pergi begitu saja.
Aku mengikutimu sampai diruang kesehatan, hati ini hancur seketika, air mataku mengalir begitu deras. Ketika mata ini sedang melihat seorang pria yang baru saja kukenal dan baru saja ku menaruh perasaan kepadanya sedang membawakan segelas air hangat kepada seorang perempuan yang sedang berbaring lemah ditempat tidur. Mungkin itu adalah kekasihnya, terlihat dari pancaran mata kedua insan tersebut. Ada rasa ke khawatiran dan rasa nyaman disitu. Hujan mengantarkanku pulang, pulang dengan keadaan bimbang! Tapi Setidaknya ku pernah mengenal seorang pria seperti dia

                                                         

“Dev, kakak kan udah bilang sama kamu tadi. Kamu gak usah ikut, kondisi kamu gak sehat! Kamu bela-belain ikut cuma mau liat cowok brengsek yang udah ninggalin kamu gitu aja! Pokoknya kakak gak mau tau, kamu harus pulang sekarang. Tadi kakak telepon mama”
“iya kak, deva salah. Maaf udah buat kakak khawatir”

                                                         

Hujan tak kunjung berhenti, tetapi ke khawatiran pun mulai mereda. Hari sudah menjelang sore, matahari pun mulai kembali kekediamannya. Tapi satu hal yang membuat seorang pria dari tadi mengitari kawasan sekolah dengan wajah penuh kebimbangan
“dimana gadis itu? Baru saja ingin kukenalkan dengan Deva!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar